Ada insgiht menarik yang baru gue dapetin dari seorang kawan yang berprofesi sebagai konsultan edukasi. Dia ngomong “kalau lo mau maju, lo harus berani ngorbanin sesuatu.” Buat gue itu adalah sebuah kalimat yang seharusnya banyak dibicarakan ketika membahas pencapaian. Bahwa untuk mencapai sesuatu, kita tidak bisa mengabaikan apa yang telah kita eliminasi untuk bisa fokus ke sesuatu yang ingin kita capai.
Kita gak bakalan bisa mendapatkan semuanya. Logikanya, waktu kita terbatas. Dalam sehari kita cuma punya 24 jam, yang jika dipotong waktu tidur, istirahat, makan, ibadah dan lainnya, kita normalnya bisa bekerja atau berkarya selama 8-10 jam sehari. Dari estimasi waktu tersebut, kita sudah mulai harus memilih dari apa yang mau kita kerjakan, ke apa yang bisa dan harus kita kerjakan.
Di sisi lain, fokus manusia memiliki batasan. Jika ingin fokus pada suatu hal, kita otomatis akan ngeblurin hal yang lain. Beberapa orang mungkin bisa multitasking, tapi bahkan ketika kita melakukan multitasking, kita harus tetap menyediakan satu momen untuk fokus menyelesaikan satu hal sebelum berpindah ke hal yang lain.
Keterbatasan itulah yang membawa kita pada keputusan untuk membagi waktu dan perhatian untuk hal-hal yang ingin kita capai, dan mengeliminasi beberapa hal yang meskipun kita sukai, tapi tidak membawa dampak terhadap gambaran besar yang ingin kita capai.
Pembahasan kami berlanjut ke “Apa lo sudah siap berkorban untuk meraih yang lo mau?”
Sesuatu yang kita eliminasi biasanya bukan cuma hal yang gak kita suka, tapi justru kebanyakan adalah hal yang kita suka. Waktu tidur bermalas-malasan sambil nyemil, adalah situasi yang kita sukai. Tapi karena kita ingin mencapai kualitas tertentu, maka kita harus mengorbankan momen bersantai itu dan menggantinya jadi waktu berlatih atau waktu kerja yang mungkin bahkan membuat kita pusing dan stress.
Menjawab pertanyaan temen gue tadi, gue dengan tanang dan yakin menjawab “Gue siap berkorban buat apa yang gue pengen.” Karena sependek perjalanan gue berkarya dan bekerja, gue sadar gak bakal bisa megang semuanya. Makanya gue bikin sistem. Dan buat membangun sebuah sistem, gue udah siap ngorbanin waktu, tenaga, pikiran, materi, dan bahkan mungkin perasaan.