Gue sering dapet pertanyaan “Pae, bagusnya pakai kamera apa ya?” Tentu saja jawabannya akan selalu bergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi saat kita memotret. Namun, jika bisa memilih kamera yang bisa gue bawa ke mana saja dan bisa digunakan untuk memotret keseharian, gue bakal memilih kamera yang kecil dan tidak mencolok.
Kenapa? Karena sadar atau tidak, kamera adalah alat yang bisa memberi lo jarak dengan objek yang akan lo foto. Di banyak situasi, ketika lo ingin memotret orang-orang yang tidak terbiasa dengan kehadiran kamera, ketika dihadapkan dengan kamera yang besar dan rumit, objek tidak akan berperilaku seperti biasanya. Akan ada perubahan perilaku yang membuat lo gak bisa merekam situasi sebagaimana adanya.
Kamera seringkali menjadi alat yang intimidatif. Kehadiran kamera di tengah orang-orang yang tidak terbiasa dengan adanya kamera, hanya akan memberi jarak antara fotografer dan realitas.
Manusia cenderung ingin terlihat sempurna. Dan ketika berhadapan dengan kamera yang besar dan rumit, kecenderungan itu makin menjadi lebih besar. Pilihan untuk menggunakan kamera kecil dan tidak mencolok adalah sebuah upaya untuk memberi kesan bahwa ini bukanlah sesuatu yang besar. Kamera ini adalah sebagian kecil dari realita yang lebih besar yang ingin ditangkap.
Selain itu, dengan menggunakan kamera kecil dan lensa standart yang mengikutinya, itu juga memaksa gue untuk lebih dekat objek yang ingin gue foto. Lebih dekat bukan hanya dalam artian jarak fisik, tapi juga secara emosional. Gue gak mungkin tiba-tiba datang mendekat dan mengambil gambar tanpa berkenalan terlebih dahulu, berbagi cerita dan hal lainnya.
Kamera yang kecil dan tidak mencolok, menolong gue untuk tahu lebih dalam siapa yang gue foto, apa yang dialaminya, apa yang dipikirkan, bagaimana ia hidup, dan tentu cerita-cerita itu membantu gue untuk merekam banyak hal, bukan hanya sebatas gambar yang dibatasi frame kamera.