Mempelajari hal-hal teknis ketika menjadi seorang profesional, entah di dunia fotografi atau hal lain, tentu saja adalah hal yang mutlak. Belajar bagaimana melakukan eksekusi agar ide dapat tertuang dengan baik, hingga sampai ke audiens.
Tapi lebih dari hal-hal teknis, ada hal yang jauh lebih dasar yang sampai hari ini masih jarang dibicarakan: Bagaimana karya mampu membangun sebuah interaksi? Apa yang membuat orang merasa terkoneksi dengan karya yang kita hasilkan? Apa yang diceritakan oleh sebuah karya? Siapa yang nanti akan beririsan dengan karya ini?
Pertanyana mendasar itu terdengar cukup filosofis hingga mungkin membuat beberapa orang merasa “ini gak perlu-perlu amat. Toh yang penting hasilnya bagus”. Dan seringkali, yang dimaksud hasilnya bagus adalah hasil yang seragam dengan apa yang beredar di pasaran hai ini.

Mempertanyakan hal-hal dasar saat membuat sebuah karya atau melakukan suatu kerja kreatif, buat gue adalah sebuah cara untuk kita memproyeksikan akan seperti apa jadinya karya ini. The end is the begining. Dan ketika di awal kita sudah membayangkan akan seperti apa karyanya, maka harusnya pertanyaan dasar tentang karya ini juga muncul bersamaan.
Jika ingin membuat sebuah karya yang menjangkau audiens remaja atau gen z, tidak akan mungkin metode pendekatan yang digunakan sama dengan ketika kita akan membuat karya berbicara kepada generasi baby boomer atau milenial. Pendekatan kemudian akan menentukan teknis seperti apa yang cocok digunakan, agar karya yang dihasilkan bisa diterima utuh oleh audiens yang dituju.
Kesalahan besar yang sering dibuat pekerja kreatif dan tidak disadari hingga sering mengulanginya adalah merasa bahwa karya adalah sesuatu yang adi luhung dan dia akan menemukan sendiri audiensnya. Padahal, membuat karya dan bagaimana memasarkan karya adalah dua hal yang berbeda.
Buat gue, selalu penting untuk mempelajari teknis, tapi jangan berhenti di sana. Pertanyakanlah banyak hal. Jadikan proses berkarya sebagai ruang eksplorasi dalam diri, ataupun ke luar diri lo.
