Tim yang ideal menurut gue adalah tim yang terdiri orang-orang yang tidak punya permasalahan pribadi atau masalah attitude. Attitude dan skill bisa dikejar asal ada kemauan. Tapi attitude butuh lebih dari sekadar kemauan. Attitude butuh empati, dan gak semua orang mau menggunakan itu saat bekerja.
Banyak orang yang bekerja hanya sekadar untuk menuntaskan kewajiban. Punya checklist KPI, dan ketika checklistnya dianggap sudah selesai, maka dia tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Skema menyelamatkan diri sendiri ini memang akan terasa lebih ringan bagi seseorang, tapi bisa jadi memberatkan bagi tim secara keseluruhan. Ada satu hal yang mungkin tidak akan tertulis dalam kontrak kerja namun sangat dibutuhkan saat bekerja: Inisiatif.
Inisiatif hadir bukan karena seseorang sudah jago dalam suatu hal. Bukan karena punya skill yang mumpuni, tapi karena punya rasa kepedulian terhadap apa gambaran besar tentang apa yang sedang dijalani. Ada dorongan rasa tanggung jawab yang bukan hanya berlaku untuk menyelesaikan pekerjaan pribadi, tapi juga dorongan memikirkan bagaimana agar cita-cita kelompok bisa tercapai.
Gue lebih baik bekerja sama dengan orang-oarng yang secara pengetahuannya belum lengkap, tapi mau belajar. Mau berupaya meningkatkan kapasitas diri dengan kesadaran bahwa dia ada di kolam yang sama dengan orang-orang di sekitarnya, dan untuk bisa ikut berenang dengan kecepatan yang sama, maka ia harus belajar dan meningkatkan kapasitas agar tujuan bersama bisa tercapai.
Skill bisa membantu teknis, tapi attitude akan membangun environment. Jadi gue lebih suka bekerja dengan orang yang gak cuma membawa otaknya tapi juga hatinya saat bekerja.