Banyak orang mengira personal branding adalah menceritakan apa saja pencapaian atau hal-hal yang telah dilakukan. Padahal, itu cuma sebagian kecil kemasan personal branding. Jauh lebih dalam, personal branding adalah sebuah akibat dari personal konsistensi.
Kekuatan mengulangi sesuatu secara terus-menerus tidak datang dari dorongan sesaat. Butuh dorongan yang kuat sehingga kita mampu mengulangi sesuatu entah dalam kondisi baik, buruk, mood, gak mood, lapang, sempit, di depan orang lain, ataupun ketika kita sedang sendirian.
Bicara soal personal branding, akan selalu bicara tentang nilai apa yang kita percaya. Tapi bagaimana caranya kita tahu tentang nilai apa yang kita percaya? Kalau lo tanya ke gue, gue bakal nyaanin lo buat melepas semua atribut yang lo punya. Gelar, suku, agama, pendidikan, style, profesi, karir, dan lainnya. Ketika semua itu gak ada, apa yang masih lo punya?
Prinsip. Ya, lo masih punya prinsip. Cara lo menghadapi berbagai masalah, cara lo menjalani hari, cara lo memandang sesuatu, sikap lo ketika dihadapkan pada pilihan, atau pilihan lo di saat-saat rumit ataupun hepi, itu semua adalah prinsip atau nilai yang lo percaya.
Nilai itulah yang akan terus diuji dalam berbagai medium trend yang datang silih berganti. Tren membuat konten foto estetik, tren membuat video personal branding, tren berbagai jenis pakaian, tren obrolan di online dan offline, semua tren itu akan berganti, dan yang akan tinggal dan terus teruji adalah nilai yang lo pegang.
You are a brand. Setiap gerak-gerik lo akan membangun persepsi tentang lo. Dan sayangnya, gak semua orang menganut dont judge a book by it’s cover. Saat ini, cover feed Instagram aja mempengaruhi orang bakal lanjut swipe atau scroll. Di situlah pentingnya kita mengidentifikasi nilai apa yang kita percaya. Biar apa yang kita tampilkan di cover, bisa memperkuat apa yang ada di dalamnya.
